Letusan Gunung dan Persepsi Sang Pujangga: Kesaksian Teks Bima, Jawa, dan Melayu Abad ke-19

Authors

  • Sudibyo Sudibyo Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.33656/manuskripta.v9i1.107

Keywords:

Volcanic Eruptions, Manuscript , Poets' Perception, Divine Punishment , Letusan Gunung, Naskah, Persepsi Pujangga, Azab

Abstract

This article examines 19th-century poets' perceptions of destructive volcanic eruptions in Indonesia by analyzing the Syair Kerajaan Bima (SKB), Babad Betawi (BB), Babad Diponegoro (BD), and Syair Lampung Karam (SLK). Unlike older classical texts that viewed mountains as sacred or beautiful, 19th-century writers interpreted the catastrophic eruptions of Mount Tambora (1815), Merapi (1822), and Krakatau (1883) as divine punishment (bala or azab). These disasters were seen as direct consequences of unjust rulers, the neglect of religious laws, and the erosion of social and traditional orders. Lacking modern scientific tools, poets sought theological explanations, viewing eruptions as manifestations of God's wrath and calling for repentance and good deeds. The study reveals that natural disasters were understood as hidden spiritual messages highlighting human helplessness before divine power.

===

Artikel ini mengeksplorasi persepsi pujangga abad ke-19 terhadap letusan gunung berapi yang bersifat destruktif di Indonesia melalui analisis teks Syair Kerajaan Bima (SKB), Babad Betawi (BB), Babad Diponegoro (BD), dan Syair Lampung Karam (SLK). Berbeda dengan teks klasik sebelumnya yang memandang gunung sebagai manifestasi keindahan atau tempat suci, para pujangga abad ke-19 menafsirkan bencana dahsyat dari letusan Gunung Tambora (1815), Merapi (1822), dan Krakatau (1883) sebagai bala atau azab dari Tuhan. Bencana-bencana tersebut dipahami sebagai konsekuensi atas tindakan penguasa yang zalim, pengabaian hukum agama, serta rusaknya tatanan sosial dan adat. Karena keterbatasan sains modern saat itu, para pujangga mencari jawaban melalui akar teologis yang menekankan pentingnya pertobatan dan amal baik sebagai jalan keluar. Studi ini menyimpulkan bahwa bencana alam dipandang sebagai pesan spiritual yang menunjukkan ketidakberdayaan manusia di hadapan kemahakuasaan Tuhan.

 

Downloads

Published

2019-07-31

How to Cite

Sudibyo, S. (2019). Letusan Gunung dan Persepsi Sang Pujangga: Kesaksian Teks Bima, Jawa, dan Melayu Abad ke-19. Manuskripta, 9(1), 107–121. https://doi.org/10.33656/manuskripta.v9i1.107

Issue

Section

Articles