Manuskripta https://manuskripta.manassa.id/index.php/journal <div><strong>MANUSKRIPTA</strong> (<a href="http://u.lipi.go.id/1398609532">ISSN: 2252-5343, e-ISSN: 2355-7605</a>) is a scholarly journal published by the Indonesian Association for Nusantara manuscripts or <a href="http://www.manassa.id/">Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA)</a>. It focuses to publish research-based articles on the study of Indonesian and Southeast Asian (Nusantara) manuscripts.</div> <p><strong data-path-to-node="2,0" data-index-in-node="0">MANUSKRIPTA</strong> aims to preserve and explore the diversity of Nusantara manuscripts while integrating local insights into global academic discourse. Published biannually in <strong>June and December</strong>, the journal is dedicated to providing students, researchers, scholars, librarians, and collectors with the latest scholarly developments in the field. We welcome contributions in both Indonesian and English concerning the study of manuscripts from Indonesia and the broader Southeast Asian (Nusantara) region. To ensure the highest standards of excellence, all submissions undergo a rigorous peer-review process.</p> <div> </div> <div> <div><strong>MANUSKRIPTA</strong> has been accredited by The Ministry of Research and Technology /National Agency for Research and Innovation, Republic of Indonesia as an academic journal (<a href="https://drive.google.com/file/d/1W0VqV7coRMoi_erc_fvvbJMy941wU6k4/view?usp=sharing">Decree No. 148/M/KPT/2020</a>). The Journal has been ranked 3rd in SINTA. </div> </div> en-US jmanuskripta@gmail.com (Abdullah Maulani) jmanuskripta@gmail.com (Abdullah Maulani) Thu, 20 Aug 2026 03:50:37 +0000 OJS 3.3.0.7 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Teks-teks Lakon Wayang Karya Ki Widiprayitna Eks-Koleksi J. L. Moens: Jembatan Masa Lalu terhadap Kajian Filologi Pertunjukan https://manuskripta.manassa.id/index.php/journal/article/view/181 <p data-path-to-node="0">This article examines the continuity and evolution of <em data-path-to-node="0" data-index-in-node="54">lakon wayang</em> texts within the J.L. Moens collection, specifically those rewritten by Ki Widiprayitna. Moens’ initiative was pivotal in documenting Yogyakarta’s puppetry traditions, drawing from ancestral guidelines like <em data-path-to-node="0" data-index-in-node="274">Pancakaki</em> and <em data-path-to-node="0" data-index-in-node="288">Grenteng</em>. Widiprayitna’s adaptations mirror live performances, meticulously preserving structural elements such as <em data-path-to-node="1" data-index-in-node="105">janturan</em> (narrative descriptions), <em data-path-to-node="1" data-index-in-node="140">pocapan</em> (dialogue), and <em data-path-to-node="1" data-index-in-node="164">gendhing</em> (musical cues). These texts, including the <em data-path-to-node="1" data-index-in-node="216">Pakem Ringgit Purwa</em>, serve as vital records of the transition from oral performance to written media. The inclusion of character illustrations further enhances the dramatic technicality of these records. By applying philological transcription to Widiprayitna’s work, researchers can decode the essential symbols and modes that define these standardized plays. Ultimately, this study highlights Widiprayitna’s critical role in formalizing and preserving the rich heritage of Javanese shadow puppetry for future generations.</p> <p>===</p> <p>Artikel ini membahas eksistensi, kesinambungan, dan transformasi teks lakon wayang dalam koleksi J.L. Moens yang ditulis ulang oleh Ki Widiprayitna. Upaya Moens merupakan langkah krusial dalam mendokumentasikan pengetahuan pedalangan di Yogyakarta berdasarkan pakem-pakem leluhur seperti <em>Pancakaki</em> dan <em>Grenteng</em>. Tulisan yang dihimpun Widiprayitna disusun identik dengan struktur pertunjukan asli, mencakup elemen <em>janturan</em>, <em>pocapan</em>, hingga <em>gendhing</em>. Proses ini menandai peralihan medium dari pertunjukan lisan ke bentuk tertulis. Teks seperti <em>Pakem Ringgit Purwa</em> dalam koleksi ini menyimpan detail teknis serta rekaman sejarah pertunjukan masa lalu. Kehadiran ilustrasi tokoh wayang turut memperjelas aspek dramatik dan karakterisasi dalam cerita. Melalui transkripsi filologis terhadap karya Widiprayitna, kode, mode, dan simbol penting dapat terungkap. Secara keseluruhan, studi ini menyoroti peran vital Widiprayitna sebagai produser teks standar dalam melestarikan warisan budaya wayang kulit bagi generasi mendatang.</p> Bima Slamet Raharja Copyright (c) 2026 Manuskripta https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 https://manuskripta.manassa.id/index.php/journal/article/view/181 Thu, 23 Jul 2026 00:00:00 +0000 Sarining Pamutus: Mantra Ruwat Jawa Kuno dalam Catatan Lontar Bali https://manuskripta.manassa.id/index.php/journal/article/view/202 <p>The Sarining Pamutus (SP) text is a Balinese palm-leaf manuscript containing Old Javanese prose mantras used for ruwat (purification). This philological study aims to describe the structure and content of the SP text and trace Old Javanese cultural elements in Balinese manuscripts. Three SP manuscripts were identified at Udayana University and the Bali Cultural Documentation Center. Overall, the 23 mantra subtexts feature key characteristics: affirming the chanter's spiritual authority, anthropogony linked to divine mythology (Kāma and Rati), microcosmic cosmology viewing the body as a universe, purification through rituals (panglukatan, pangentas, and palepasan), and symbols of ultimate stillness. These mantras emphasize uniting the spirit with supernatural power to transform evil into good. Further research is required to explore the practical use of these mantras in rituals and reconstruct the transmission of Old Javanese intellectual traditions in Bali.</p> <p>===</p> <p>Teks <em>Sarining Pamutus</em> (SP) merupakan naskah lontar Bali berisi kumpulan mantra Jawa Kuno berbentuk prosa panjang untuk tradisi <em>ruwat</em> (penyucian). Penelitian filologi ini bertujuan mendeskripsikan struktur dan isi teks SP serta melacak jejak budaya Jawa Kuno dalam naskah Bali. Tiga naskah SP diidentifikasi di Perpustakaan Lontar Universitas Udayana dan Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali. Secara umum, 23 subteks mantra di dalamnya memiliki karakteristik utama: penegasan otoritas spiritual penutur, antropogoni yang terhubung dengan mitologi dewa (Kāma dan Rati), kosmologi mikrokosmos yang memandang tubuh sebagai alam semesta, penyucian melalui ritual (<em>panglukatan</em>, <em>pangentas</em>, dan <em>palepasan</em>), serta simbol pencapaian keheningan tertinggi. Mantra-mantra ini menekankan penyatuan roh dengan kekuatan gaib untuk mengubah kejahatan menjadi kebaikan. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi aspek praktis mantra dalam ritual serta merekonstruksi tradisi intelektual Jawa Kuno di Bali.</p> Pande Putu Abdi Jaya Prawira Copyright (c) 2026 Manuskripta https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 https://manuskripta.manassa.id/index.php/journal/article/view/202 Tue, 23 Jun 2026 00:00:00 +0000 Ladrang Sri Katon Laras Pelog Pathet Barang: Artikulasi Politik Masa Pemerintahan Paku Buwana X https://manuskripta.manassa.id/index.php/journal/article/view/188 <p>Paku Buwana X, who ruled Surakarta Hadiningrat from 1893 to 1939, placed <em>Ladrang Srikaton Laras Pelog Pathet Barang</em> as the Gendhing Pakurmatan Miyos Dalem, a piece of music played to honor the king's arrival at special events within the palace grounds. During Paku Buwana X's reign, <em>Ladrang Srikaton Laras Pelog Pathet</em> Barang was performed alongside the Dutch national anthem, Wilhelmus. The Serat Sri Karongron by Raden Ngabehi Purbadipura describes the simultaneous presentation of two musical works, each with its own musical basis. The presentation of <em>Ladrang Srikaton Laras Pelog Pathet Barang</em> alongside the Dutch national anthem served as Paku Buwana X's political articulation, affirming that the Surakarta king still possessed legitimate power. The presentation of two musical works with different musical bases is part of Paku Buwana X's effort to demonstrate his power. This paper uses a hermeneutic approach to interpret the texts in Serat Sri Karongron by Raden Ngabehi Purbadipura.</p> <p>===</p> <p>Paku Buwana X yang memerintah Negari Surakarta Hadiningrat pada 1893 – 1939 menempatkan Ladrang Srikaton laras pelog pathet barang sebagai <em>Gêndhing Pakurmatan Miyos Dalêm</em> yaitu gending yang dibunyikan untuk menghormati kedatangan raja pada acara-acara tertentu di lingkungan istana. Sajian <em>Ladrang Srikaton laras pélog pathêt barang</em> pada masa pemerintahan Paku Buwana X disajikan bersamaan dengan lagu kebangsaan Belanda <em>Wilhelmus</em>. <em>Sêrat Sri Karongron</em> karya Raden Ngabehi Purbadipura mendeskripsikan peristiwa penyajian dua karya musikal dengan basis musikal yang berbeda secara bersamaan. Penyajian <em>Ladrang Srikaton laras pélog pathêt barang</em> bersamaan dengan lagu kebangsaan Belanda merupakan artikulasi politik Paku Buwana X bahwa raja Surakarta masih memiliki legitimasi kekuasaan. Penyajian dua karya musik dengan basis musikal yang berbeda merupakan bagian dari upaya Paku Buwana X menunjukkan kekuasaannya. Tulisan ini menggunakan pendekatan hermeneutik untuk menginterpretasi teks-teks dalam <em>Sêrat Sri Karongron</em> karya Raden Ngabehi Purbadipura.</p> Joko Daryanto, Bambang Sunarto, Bimo Kuncoro Copyright (c) 2026 Manuskripta https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 https://manuskripta.manassa.id/index.php/journal/article/view/188 Tue, 23 Jun 2026 00:00:00 +0000 Formulasi Fitur Visual Manuskrip Arab Pegon Sunda untuk Pengembangan Sistem Handwritten Text Recognition (HTR) Berbasis Artificial Intelligence (AI) https://manuskripta.manassa.id/index.php/journal/article/view/194 <p style="margin-top: 0cm;"><span style="font-family: 'Arial',sans-serif;">This study examines the Sundanese Arab Pegon manuscript <em>Wawacan Abdul Muluk</em> through a philological approach to formulate a conceptual visual feature taxonomy framework as a foundational step for developing Artificial Intelligence (AI)-based Handwritten Text Recognition (HTR). The philological approach is employed to identify the manuscript’s condition, structural content, linguistic characteristics, and script, which are then transformed into digital parameters. The study successfully formulates six categories of conceptual visual features: paleography, text layout, script form, grapheme variation, ornamentation, and physical degradation (such as faded ink and damaged binding) that create visual noise affecting text legibility. These characteristics are analyzed as a baseline to enable AI models to accurately recognize, process, and represent Sundanese manuscripts. This synergy between philology and computational approaches contributes to the digital humanities by providing a visual feature taxonomy for future HTR application development.</span></p> <p style="margin-top: 0cm;"><span style="font-family: 'Arial',sans-serif;">===</span></p> <p style="margin-top: 0cm;"><span style="font-family: 'Arial',sans-serif;">Penelitian ini mengkaji manuskrip Arab Pegon Sunda <em>Wawacan Abdul Muluk</em> melalui pendekatan filologi untuk merumuskan kerangka kerja (<em>framework</em>) taksonomi fitur visual konseptual sebagai dasar awal pengembangan model <em>Handwritten Text Recognition</em> (HTR) berbasis <em>Artificial Intelligence</em> (AI). Pendekatan filologi digunakan untuk mengidentifikasi kondisi naskah, struktur isi, karakteristik kebahasaan, dan aksara, yang kemudian ditransformasikan menjadi parameter digital. Hasil penelitian berhasil merumuskan enam kategori fitur visual konseptual: paleografi, tata letak teks, bentuk aksara, variasi grafem, ornamen, serta degradasi fisik naskah (seperti tinta pudar dan jilid rusak) yang menjadi <em>noise</em> visual bagi keterbacaan teks. Karakteristik ini dianalisis sebagai landasan agar model AI mampu mengenali, memproses, dan merepresentasikan manuskrip Sunda secara akurat. Sinergi antara filologi dan pendekatan komputasional ini berkontribusi pada bidang humaniora digital dalam menyediakan taksonomi fitur visual untuk pengembangan aplikasi HTR di masa depan.</span></p> Indra Sopian, Muhammad Sigit Pramudya, Asep Achmad Hidayat, Dedi Supriadi, Zulmi Ramdani Copyright (c) 2026 Manuskripta https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 https://manuskripta.manassa.id/index.php/journal/article/view/194 Tue, 23 Jun 2026 00:00:00 +0000 Bahasa Orang-Orang Mandala: Relasi Bahasa antara Lontar Sunda dengan Bahasa Orang Baduy https://manuskripta.manassa.id/index.php/journal/article/view/192 <p>This paper examines the relationship between the language of ancient Sundanese texts and the language of the Baduy people, especially their oral tradition of carita pantun. Although the Baduy people have a distinctive cultural style and way of life, including language, based on field evidence, the interaction between the Baduy people and people outside the Baduy community occurs dynamically. The assumption that the Baduy people isolate themselves, which is often expressed by many researchers, is clearly an unproven accusation. Because of the relationship between the language of ancient Sundanese texts and the language of the Baduy people, the question arises whether the language in the texts referred to as ancient Sundanese is chronologically related to what is called modern Sundanese or whether this language is a language variety used by certain groups.</p> <p>===</p> <p>Tulisan ini mengulas mengenai pertautan antara bahasa dalam teks Sunda kuna dengan bahasa orang Baduy terutama tradisi lisan mereka carita pantun. Meski orang Baduy memiliki corak budaya dan pranata hidup yang khas, termasuk bahasa, dari bukti di lapangan interaksi orang Baduy dan orang di luar komunitas Baduy terjadi secara dinamis. Anggapan bahwa orang Baduy mengisolasi diri, yang sering diutarakan banyak peneliti, jelas merupakan tuduhan yang tidak terbukti. Oleh karena pertautan antara bahasa teks Sunda kuna dan bahasa orang Baduy, maka timbul pertanyaan apakah bahasa dalam teks yang disebut Sunda kuna berkaitan secara kronologis dengan yang disebut bahasa Sunda modern ataukah bahasa ini merupakan salah satu ragam bahasa yang digunakan oleh kalangan tertentu.</p> Hady Prastya Copyright (c) 2026 Manuskripta https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 https://manuskripta.manassa.id/index.php/journal/article/view/192 Tue, 23 Jun 2026 00:00:00 +0000