Manuskripta https://manuskripta.manassa.id/index.php/journal <div><strong>MANUSKRIPTA</strong> (<a href="http://u.lipi.go.id/1398609532">ISSN: 2252-5343, e-ISSN: 2355-7605</a>) is a scholarly journal published by the Indonesian Association for Nusantara manuscripts or <a href="http://www.manassa.id/">Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA)</a>. It focuses to publish research-based articles on the study of Indonesian and Southeast Asian (Nusantara) manuscripts.</div> <p><strong data-path-to-node="2,0" data-index-in-node="0">MANUSKRIPTA</strong> aims to preserve and explore the diversity of Nusantara manuscripts while integrating local insights into global academic discourse. Published biannually in <strong>June and December</strong>, the journal is dedicated to providing students, researchers, scholars, librarians, and collectors with the latest scholarly developments in the field. We welcome contributions in both Indonesian and English concerning the study of manuscripts from Indonesia and the broader Southeast Asian (Nusantara) region. To ensure the highest standards of excellence, all submissions undergo a rigorous peer-review process.</p> <div> </div> <div> <div><strong>MANUSKRIPTA</strong> has been accredited by The Ministry of Research and Technology /National Agency for Research and Innovation, Republic of Indonesia as an academic journal (<a href="https://drive.google.com/file/d/1W0VqV7coRMoi_erc_fvvbJMy941wU6k4/view?usp=sharing">Decree No. 148/M/KPT/2020</a>). The Journal has been ranked 3rd in SINTA. </div> </div> Masyarakat Pernaskahan Nusantara en-US Manuskripta 2252-5343 Menafsirkan Ulang Riwayat Ken Angrok dan Ken Děděs dalam Kitab Pararaton https://manuskripta.manassa.id/index.php/journal/article/view/230 <p>The <em>Pararaton</em> is an anonymous work written in Middle Javanese. The book outlines the life of Ken Angrok as well as the kings of Singhasari and Majapahit. This article attempts to explain the background behind why the story of Ken Angrok receives a larger portion compared to the stories of other kings' lives. Through a textual examination of the Pararaton and an analysis of related archaeological evidence, it is revealed that the story of Ken Angrok in the text symbolizes the unification of two major religions practiced by the Ancient Javanese society: Shaiva Hinduism and Mahayana Buddhism. The symbolization of Shaiva Hinduism is evident in the description of Ken Angrok as the incarnation of three gods: Brahma, Shiva, and Vishnu, while the symbolization of Mahayana Buddhism is seen in the description of Ken Angrok's wife, Ken Děděs, as the only daughter of Mpu Purwa, a Mahayana Buddhist priest. As an implication of this unification of two major religions, several temples carrying the spirit of unification, known as Shiva-Buddha temples, were built during the Singhasari Kingdom era. The design of these temples was clearly unimaginable prior to the Singhasari era.</p> <p>===</p> <p><span data-path-to-node="3,2,0,0"><span class="citation-2490 citation-2491 citation-end-2491">Kitab Pararaton merupakan karya anonim yang ditulis dalam bahasa Jawa tengahan</span></span><span data-path-to-node="3,2,0,2"><span class="citation-2488 citation-2489 citation-end-2489">. Kitab tersebut menguraikan kehidupan Ken Angrok serta raja-raja Singhasari dan Majapahit</span></span><span data-path-to-node="3,2,0,4"><span class="citation-2486 citation-2487 citation-end-2487">. Tulisan ini berusaha menjelaskan latar belakang mengapa cerita mengenai Ken Angrok itu mendapat porsi yang lebih besar dibandingkan </span><span class="citation-2486 citation-end-2486">dengan cerita m</span>engenai kehidupan raja-raja yang lain</span><span data-path-to-node="3,2,0,6">. Melalui telaah <span class="citation-2483 citation-2484 citation-2485 citation-end-2485">tekstual terhadap Kitab Pararaton dan telaah terhadap bukti-bukti arkeologis terkait, terlihat bahwa cerita Ken Angrok dalam kitab tersebut merupakan simbol penyatuan dua agama besar yang dianut oleh masyara</span><span class="citation-2483 citation-2484 citation-end-2484">kat Jawa Kuno: Hindu Saiwa dan Budha Mahayana</span></span><span data-path-to-node="3,2,0,8"><span class="citation-2481 citation-2482 citation-end-2482">. Simbolisasi Agama Hindu-Saiwa itu terlihat dari ura</span><span class="citation-2481 citation-end-2481">ian mengenai sosok Ken Angrok sebagai penjelmaan dari tiga dewa: Brahma, Siwa, dan Wisnu, sementara </span>simbolisasi agama Budha Mahayana itu terlihat dari uraian mengenai sosok isteri Ken Angrok, yaitu Ken Děděs, sebagai putri tunggal Mpu Purwa, seorang pendeta Budha Mahayana</span><span data-path-to-node="3,2,0,10">. Sebagai implikasi dari penyatuan dua agama besar, beberapa candi yang mengandung semangat penyatuan tersebut, yang dikenal dengan candi Syiwa-Budha, dibangun pada masa Kerajaan Singhasari</span><span data-path-to-node="3,2,0,12">. Bentuk candi tersebut jelas tidak pernah terbayangkan ada sebelum masa Singhasari</span><span data-path-to-node="3,2,0,14">.</span></p> Agus Aris Munandar Copyright (c) 2026 Manuskripta https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-07-31 2026-07-31 1 1 10.33656/manuskripta.v1i1.230 Sastra Sasak Selayang Pandang https://manuskripta.manassa.id/index.php/journal/article/view/231 <p>This paper briefly explains Sasak literature on the island of Lombok. The description begins by explaining the importance of Islam for the Sasak people and the two variants of Islam practiced by them, namely <em>Waktu Telu</em> and <em>Waktu Lima</em>. Meanwhile, in the discussion of Sasak literature, it is explained that literature on Lombok Island has been passed down from generation to generation through writing on lontar palm leaves. The writing on these lontar leaves uses a type of Javanese script which in Lombok is called jejawen script, and the language used is Javanese. The Javanese language used in Sasak lontar carries the dialect of eastern coastal Javanese, but contains many vocabulary words unique to Sasak and is further mixed with words from Arabic, Malay, Balinese, and others, so that Lombok-style Javanese deserves to be considered a distinct Javanese dialect. At the end of this paper, several examples of stories known in Sasak literature are presented, namely the stories of <em>Puspakrama, Bandarsela, Jowarsah, Cilinaya,</em> and <em>Kertanah</em>.</p> <p>===</p> <p><span data-path-to-node="6,2,0,0">Dalam tulisan ini dijelaskan secara ringkas mengenai kesusastraan Sasak di Pulau Lombok</span><span data-path-to-node="6,2,0,2">. Uraian diawali dengan menjelaskan pentingnya Agama Islam bagi orang Sasak dan dua varian agama Islam yang dianut oleh orang Sasak, yaitu Waktu Telu dan Waktu Lima</span><span data-path-to-node="6,2,0,4">. Sementara itu, dalam pembicaraan mengenai kesusastraan Sasak dijelaskan bahwa kesusastraan di Pulau Lombok diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya lewat penulisan di daun lontar</span><span data-path-to-node="6,2,0,6">. Tulisan di daun lontar itu menggunakan sejenis aksara Jawa yang di Lombok disebut aksara jejawen dan bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa</span><span data-path-to-node="6,2,0,8">. Bahasa Jawa yang digunakan dalam lontar Sasak itu berbau logat Jawa pesisiran timur tetapi banyak kosa kata yang khas Sasak dan dicampur lagi dengan kata-kata dari bahasa Aran, Melayu, Bali dan lain sebagainya sehingga bahasa Jawa gaya Lombok selayaknya dianggap sebagai logat Jawa tersendiri</span><span data-path-to-node="6,2,0,10">. Di bagian akhir tulisan ini diberikan beberapa contoh cerita yang dikenal dalam kesusastraan Sasak, yaitu cerita <em>Puspakrama, Bandarsela, Jowarsah, Cilinaya</em>, dan <em>Kertanah</em></span><span data-path-to-node="6,2,0,12">.</span></p> Dick van der Meij Copyright (c) 2026 Manuskripta https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-07-31 2026-07-31 1 1 'Menjadi Jawa': Naskah Cina-Jawa https://manuskripta.manassa.id/index.php/journal/article/view/232 <p>Chinese-Javanese manuscripts, written in the Javanese language and script, are part of the treasury of Javanese manuscripts that have existed since the early 19th century. The content of these manuscripts narrates Chinese myths and legends, such as Sam Kok and Sik Jin Kwi. There are 118 Chinese-Javanese manuscripts scattered across various libraries on the island of Java and abroad. These manuscripts serve as evidence of the writing activities of the Chinese Peranakan community in Java. Furthermore, they evidence the efforts of ethnic Chinese residing in Java during that period to 'become Javanese'. The aksara swara (vowel characters) and aksara rekan (foreign sound characters) appearing in Chinese-Javanese manuscripts are also 'new formations' created to maintain Chinese identity. These scripts were used to spell the names of characters within the story texts.</p> <p>===</p> <p><span data-path-to-node="9,2,0,0">Naskah-naskah Cina-Jawa, yang ditulis dalam bahasa/aksara Jawa merupakan bagian dari khasanah naskah Jawa yang telah hadir sejak awal abad ke-19</span><span data-path-to-node="9,2,0,2">. Isi naskah tersebut mengisahkan mitos/legenda Tiongkok, seperti Sam Kok dan Sik Jin Kwi</span><span data-path-to-node="9,2,0,4">. Jumlah naskah-naskah Cina-Jawa adalah 118 tersebar di berbagai perpustakaan di pulau Jawa dan mancanegara</span><span data-path-to-node="9,2,0,6">. Naskah ini merupakan bukti aktifitas masyarakat Cina Peranakan Jawa di bidang tradisi tulis</span><span data-path-to-node="9,2,0,8">. Selain itu juga bukti upaya 'menjadi Jawa' etnis Cina yang pada masa itu tinggal di Pulau Jawa</span><span data-path-to-node="9,2,0,10">. Aksara swara dan aksara rekan yang muncul dalam naskah Cina-Jawa juga merupakan 'bentukan baru' yang diciptakan untuk tetap memunculkan identitas kecinaan</span><span data-path-to-node="9,2,0,12">. Aksara tersebut digunakan untuk menulis nama-nama tokoh dalam teks cerita</span><span data-path-to-node="9,2,0,14">.</span></p> Dwi Woro Retno Mastuti Copyright (c) 2026 Manuskripta https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-07-31 2026-07-31 1 1 47 77 Naskah Klasik di Kota Tidore Kepulauan Provinsi Maluku Utara https://manuskripta.manassa.id/index.php/journal/article/view/233 <p><span data-path-to-node="12,2,0,0">This paper is a follow-up investigation of classical manuscripts in Tidore Islands City, North Maluku Province. In the 2009, 48 classical manuscripts were inventoried and digitized in Ternate City and Tidore Islands City, North Maluku. In 2010, a total of 125 manuscripts were discovered, inventoried, and digitized again in Tidore Islands City. These classical manuscripts were generally written in the 17th–19th centuries. Meanwhile, manuscripts written in the 20th century are copies of existing classical manuscripts. These manuscripts are generally found within the community and are privately owned by residents. Because the existing classical manuscripts are aged, they are mostly incomplete, and many exist merely as loose sheets whose original order is no longer known. Apart from age, the decay of these manuscripts is caused by non-standard preservation practices. The writing media used include Dluwang paper, European paper (bearing watermarks and countermarks), Chinese paper, and lined paper written with local ink (<em>mansi</em>) and imported ink. In terms of content, the manuscripts generally contain Sufi order (Tariqa) teachings. Besides Tariqa, they also cover jurisprudence (fiqh), Arabic grammar (nahwu sharaf), recitation rules (tajwid), sermons, Sultan letters, history, talismans, and other topics.</span></p> <p><span data-path-to-node="12,2,0,0">===</span></p> <p><span data-path-to-node="12,2,0,0">Tulisan ini merupakan penelusuran lanjutan naskah klasik di Kota Tidore Kepulauan Provinsi Maluku Utara</span><span data-path-to-node="12,2,0,2">. Pada tahun sebelumnya (2009) telah diinventarisir dan digitalkan sebanyak 48 naskah klasik di Kota Ternate dan Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara</span><span data-path-to-node="12,2,0,4">. Pada tahun 2010, telah ditemukan, diinventarisir dan digitalkan kembali sebanyak 125 di Kota Tidore Kepulauan</span><span data-path-to-node="12,2,0,6">. Naskah-naskah klasik tersebut pada umumnya ditulis pada abad 17-19</span><span data-path-to-node="12,2,0,8">. Adapun naskah yang ditulis pada abad ke 20 merupakan salin ulang dari naskah klasik yang ada</span><span data-path-to-node="12,2,0,10">. Naskah-naskah tersebut pada umumnya ditemukan pada masyarakat dan milik warga</span><span data-path-to-node="12,2,0,12">. Karena naskah klasik yang ada sudah berumur, maka naskah tersebut pada umumnya sudah tidak utuh, bahkan banyak yang hanya berupa lembaran-lembaran yang sudah tidak diketahui susunannya</span><span data-path-to-node="12,2,0,14">. Selain karena usia, penyebab lapuknya naskah tersebut karena pemeliharaan yang tidak memenuhi standar</span><span data-path-to-node="12,2,0,16">. Adapun alas tulis yang digunakan berupa kertas Dluwang, Eropa (mempunyai watermark dan countermark), China, dan kertas bergaris dengan tinta lokal (mansi) dan tinta inport</span><span data-path-to-node="12,2,0,18">. Sedangkan dari segi isi, naskah-naskah tersebut pada umumnya berisi tentang ajaran Tarikat</span><span data-path-to-node="12,2,0,20">. Selain Tarikat, juga berisi masalah fikih, nahwu sharaf, tajwid, khutbah, surat Sultan, sejarah, jimat, dan lain-lain</span><span data-path-to-node="12,2,0,22">.</span></p> Idham Idham Copyright (c) 2026 Manuskripta https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-07-31 2026-07-31 1 1 79 96 Mengungkap Naskah Kuna Koleksi Masyarakat Cirebon: Sebuah Catatan Filologis sebagai Trend Studi Islam di PTAI https://manuskripta.manassa.id/index.php/journal/article/view/234 <p>Philological studies under the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia, through State Islamic Higher Education Institutions (PTAI), are currently becoming a trend. This can be seen from several initiatives undertaken, both practically and strategically. Among the PTAIs referred to in this paper is IAIN Syekh Nurjati Cirebon. The manuscripts discussed in this paper are related to the heritage of the Cirebon Palace/Sultanate, especially Kasepuhan and Kanoman, currently held by the community. These two palaces represent two of the four Palaces in Cirebon. Both play an important role in Islamic civilization in Indonesia. Among these roles is the presence of ancient religious manuscripts, parts of which have been saved by their heirs as community collections to this day. This paper reveals the access to and identity of the Palace's ancient manuscripts held within the community, particularly following a digitization effort conducted together with public Islamic higher education institutions in Cirebon. It is hoped that there will be a more strategic follow-up for the preservation and conservation of ancient manuscripts as evidence of Indonesian Islamic civilization by various parties. The following discussion is also equipped with a simple description of several of these manuscripts.</p> <p>===</p> <p><span data-path-to-node="15,2,0,0">Studi filologi di Kementrian Agama RI, melalui Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI), saat ini tengah menjadi trend</span><span data-path-to-node="15,2,0,2">. Hal itu bisa dilihat dari beberapa ikhtiar yang telah dilakukannya, baik secara praktis maupun strategis</span><span data-path-to-node="15,2,0,4">. Diantara PTAI yang dimaksud dalam tulisan ini adalah IAIN Syekh Nurjati Cirebon</span><span data-path-to-node="15,2,0,6">. Nas<span class="citation-2480 citation-end-2480">kah yang diungkap dalam paparan ini terkait dengan warisan Kraton/Kesultanan Cirebon, terutama Kasepuhan dan Kanoman yang berada di masyarakat</span></span><span data-path-to-node="15,2,0,8"><span class="citation-2479 citation-end-2479">. Kedua kraton ini merupakan dua dari empat Kraton di Cirebon</span></span><span data-path-to-node="15,2,0,10"><span class="citation-2478 citation-end-2478">. Keduanya mempunyai peran penting dalam peradaban Islam di Indone</span>sia</span><span data-path-to-node="15,2,0,12">. Diantara perannya antara lain adanya naskah kuna (<em>manuscript</em>) keagamaan yang hingga kini, sebagiannya diselamatkan para pewarisnya sebagai koleksi masyarakat</span><span data-path-to-node="15,2,0,14">. Tulisan ini mengungkap akses dan identitas naskah kuna Kraton yang di masyarakat, khususnya setelah digitalisasi bersama-sama PTAIN di Cirebon</span><span data-path-to-node="15,2,0,16">. Harapannya, terdapat tindak lanjut yang lebih strategis untuk penyelamatan dan pelestarian naskah kuna sebagai bukti dari peradaban Islam Indonesia oleh berbagai pihak</span><span data-path-to-node="15,2,0,18">. Paparan berikut ini dilengkapi pula dengan deskripsi sederhana dari beberapa naskah tersebut</span><span data-path-to-node="15,2,0,20">.</span></p> Mahrus el-Mawa Copyright (c) 2026 Manuskripta https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-07-31 2026-07-31 1 1 97 122 Karakteristik Naskah Islam Indonesia: Contoh dari Zawiyah Tanoh Abee, Aceh Besar https://manuskripta.manassa.id/index.php/journal/article/view/235 <p><span data-path-to-node="18,2,0,0"><span class="citation-2465 citation-end-2465">This paper discusses the characteristics of Islamic manuscripts in the collection of Zawiyah Tanoh Abee, Aceh Besar, which are demonstrated, among other things, through various marginalia notes written by copiers, as well as cover notes added later by the owners of the manuscripts. The marginalia and cover notes can be positioned as an important source for reconstructing the social history of Zawiyah Tanoh Abee, which served as a scriptorium for religious manuscripts in Northern Sumatra. In addition, this paper presents the characteristics of several manuscripts in the Zawiyah Tanoh Abee collection that provide an overview of the religious affiliations, schools of thought, and tendencies of the Acehnese Muslim community connected to it. Studies on the manuscript collection of Zawiyah Tanoh Abee itself are actually still very limited compared to the total number of manuscripts available, even though as a historical heritage of 17th and 18th-century Acehnese Islam, the Zawiyah Tanoh Abee manuscripts clearly hold a significant position, both within the context of the development of Islam in Aceh and in the Archipelago as a whole.</span></span></p> <p><span data-path-to-node="18,2,0,0"><span class="citation-2465 citation-end-2465">===</span></span></p> <p><span data-path-to-node="18,2,0,0"><span class="citation-2465 citation-end-2465">Tulisan ini akan membahas tentang karakteristik naskah Isl</span>am koleksi Zawiyah Tanoh Abee, Aceh Besar, yang antara lain ditunjukkan melalui berbagai catatan marginalia yang dibuat oleh penyalin naskah, maupun melalui catatan sampul yang dibu<span class="citation-2464 citation-end-2464">at belakangan oleh pemilik naskahnya</span></span><span data-path-to-node="18,2,0,2"><span class="citation-2463 citation-end-2463">. Marginalia dan catatan sampul tersebut dapat ditempatkan sebagai salah satu bentuk sumber penting dalam merekontruksi sejarah sosial Zawiyah Tanoh Abee, yang merupakan salah satu skripto</span>rium naskah keagamaan di Sumatra bagian Utara ini</span><span data-path-to-node="18,2,0,4">. Selain itu, tulisan ini juga akan mengemukakan karakteristik sejumlah naskah koleksi Zawiyah Tanoh Abee yang dapat memberikan gambaran tentang afiliasi dan kecenderungan pemikiran atau mazhab keagamaan masyarakat Muslim Aceh yang terhubungkan dengannya</span><span data-path-to-node="18,2,0,6">. Kajian terhadap naskah-naskah koleksi Zawiyah Tanoh Abee sendiri sebetulnya masih sangat terbatas dibanding jumlah naskahnya, padahal sebagai warisan sejarah Islam Aceh abad ke-17 dan 18, naskah-naskah Zawiyah Tanoh Abee jelas sangat penting kedudukannya, baik dalam konteks perkembangan Islam di Aceh, maupun Nusantara secara keseluruhan, seperti akan saya kemukakan di bawah</span><span data-path-to-node="18,2,0,8">.</span></p> Oman Fathurahman Copyright (c) 2026 Manuskripta https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-07-31 2026-07-31 1 1 123 145 Pola Rima Syi'iran dalam Naskah di Tatar Sunda dan Hubungannya dengan Pola Rima Syair Arab https://manuskripta.manassa.id/index.php/journal/article/view/236 <p><span data-path-to-node="21,2,0,0">Syi'iran is a familiar tradition in the Islamic boarding school (pesantren) world, particularly in Tatar Sunda. Besides being used to convey thoughts that generally take the form of invitations/exhortations, syi'iran is also utilized as a medium to impart Islamic teachings, specifically to santri (students) and generally to the community surrounding the pesantren. The use of syi'iran as an educational medium is viewed as highly effective because it is easier to remember and does not burden santri (or the community) with formal situations and learning patterns typical of general educational processes. Due to being sung or listened to frequently, syi'iran can naturally be memorized by heart without compulsion, which positively impacts the educational process around the pesantren. Through syi'iran, santri and the general public are expected to be awakened in their consciousness and possess the desire to follow the advice and religious teachings chanted through it. Given how deeply rooted the syi'iran tradition has been in Tatar Sunda over a long period, besides still being enjoyed via loudspeakers during religious recitations today, it is also proven by the presence of syi'ir notes found in classical manuscripts. The easiest aspect to recognize in manuscript syi'iran is the repetition of final sounds that form a musicality or orchestration, making syi'iran melodious when read. The habit of chanting Arabic poetry—whether through the tradition of reading the Barzanji, Shalawat, or poetic excerpts in Kitab Kuning—more or less, consciously or unconsciously, influences the rhyming patterns of syi'iran composed by local communities. This brings about several correspondences in rhyming patterns between syi'iran and Arabic poetry. The rhyming patterns of syi'iran in Sundanese manuscripts and their relation to the rhyming patterns of Arabic poetry discussed in this paper are expected to assist the text edition process in philological research, particularly for texts written in the form of syi'iran.</span></p> <p><span data-path-to-node="21,2,0,0">===</span></p> <p><span data-path-to-node="21,2,0,0">Syi'iran merupakan sebuah tradisi yang tidak asing lagi di dunia pesantren, khususnya yang terdapat di Tatar Sunda</span><span data-path-to-node="21,2,0,2">. Selain dipergunakan untuk menyampaikan buah pikiran yang umumnya berupa ajakan, syi'iran di gunakan pula sebagai media untuk menyampaikan ajaran agama Islam, khususnya kepada para santri dan umumnya kepada masyarakat di sekitar pesantren</span><span data-path-to-node="21,2,0,4">. Penggunaan syi'iran sebagai media pendidikan dipandang sangat efektif karena lebih mudah diingat dan tidak membebani santri (masyarakat) dengan situasi dan pola formal sebagaimana proses pembelajaran pada umumnya</span><span data-path-to-node="21,2,0,6">. Karena seringnya dinyanyikan atau diperdengarkan, syi'iran dengan sendirinya dapat dihafalkan di luar kepala tanpa keterpaksaan, hal ini tentu membawa dampak bagi proses pendidikan di sekitar pesantren</span><span data-path-to-node="21,2,0,8">. Melalui syi'iran, diharapkan para santri serta masyarakat umum tergugah kesadarannya dan memiliki keinginan untuk mengikuti nasihat serta ajaran agama yang disenandungkan melalui syi'iran tersebut</span><span data-path-to-node="21,2,0,10">. Demikian mengakarnya tradisi syi'iran yang telah berlangsung sejak lama di Tatar Sunda, selain saat ini masih dapat dinikmati melalui pengeras suara di pengajian-pengajian juga dapat dibuktikan dengan adanya catatan-catatan syi'ir yang terdapat pada naskah klasik</span><span data-path-to-node="21,2,0,12">. Hal yang paling mudah diketahui dari syi'iran pada naskah adalah adanya pengulangan bunyi akhir yang membentuk musikalitas atau orkestrasi sehingga membuat syi'iran menjadi merdu jika dibaca</span><span data-path-to-node="21,2,0,14">. Adanya kebiasaan melantunkan syair-syair Arab baik melalui tradisi pembacaan Barzanji, Shalawat, atau kutipan-kutipan syair pada Kitab Kuning sedikit banyak, baik disadari ataupun tidak, mempengaruhi pola rima syi'iran yang digubah oleh masyarakat lokal</span><span data-path-to-node="21,2,0,16">. Hal ini memunculkan sejumlah kesesuaian pola rima antara syi'iran dan sya'ir Arab</span><span data-path-to-node="21,2,0,18">. Pola rima syi'iran dalam naskah Sunda dan hubungannya dengan pola rima syair Arab yang dibahas dalam makalah ini diharapkan dapat membantu proses edisi teks dalam penelitian filologi, khususnya untuk teks yang berbentuk syi'iran</span><span data-path-to-node="21,2,0,20">.</span></p> Titin Nurhayati Ma'mun Copyright (c) 2026 Manuskripta https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-07-31 2026-07-31 1 1 147 159 Kearifan Lokal "Makanan Tradisional": Rekonstruksi Naskah Jawa dan Fungsinya dalam Masyarakat https://manuskripta.manassa.id/index.php/journal/article/view/237 <p>Traditional food is a cultural phenomenon. Culture plays a role in determining whether a food item is edible or not, while simultaneously labeling or legitimizing it. Thus, food is not merely for sustaining life, but also for preserving the culture of a collective group. In this context, food carries symbolic meanings associated with social and religious functions. In Javanese society, traditional food is closely linked to Javanese ritual ceremonies that continue to be practiced to this day. This is also evident in several Javanese manuscripts containing descriptions of traditional food, namely Serat Centhini, Serat Goenandrija, Serat Wilujengan, Jumenengan, Kraman, Mangkunegaran, and Primbon Lukmanakim Adammakna. These manuscripts contain various types of traditional foods and their functions within Javanese society. Through this paper, local wisdom in the form of cultural heritage—namely the thoughts of ancestors regarding traditional food as recorded in these manuscripts—will be presented.</p> <p>===</p> <p><span data-path-to-node="24,2,0,0">Makanan tradisional merupakan fenomena kebudayaan</span><span data-path-to-node="24,2,0,2">. Kebudayaan pun ikut menentukan makanan dapat dimakan atau tidak sekaligus memberi cap atau mengesahkannya</span><span data-path-to-node="24,2,0,4">. Dengan demikian, makanan bukan sekadar untuk mempertahankan hidup, melainkan juga untuk mempertahankan kebudayaan sebuah kolektif</span><span data-path-to-node="24,2,0,6">. Dalam hal ini, makanan mempunyai arti simbolik yang berkaitan dengan fungsi sosial dan keagamaan (religi)</span><span data-path-to-node="24,2,0,8">. Dalam masyarakat Jawa, makanan tradisional erat hubungannya dengan upacara ritual masyarakat Jawa yang hingga kini masih dilaksanakan</span><span data-path-to-node="24,2,0,10">. Hal tersebut pun nampak dalam beberapa naskah Jawa yang berisi tentang makanan tradisional, yaitu Serat Centhini, Serat Goenandrija, Serat Wilujengan, Jumenengan, Kraman, Mangkunegaran, dan Primbon Lukmanakim Adammakna</span><span data-path-to-node="24,2,0,12">. Naskah-naskah tersebut berisi berbagai macam makanan tradisional serta fungsinya dalam masyarakat Jawa</span><span data-path-to-node="24,2,0,14">. Melalui tulisan ini, akan dipaparkan kearifan lokal berupa warisan budaya, yaitu pemikiran-pemikiran nenek moyang mengenai makanan tradisional yang terekam dalam naskah-naskah tersebut</span><span data-path-to-node="24,2,0,16">.</span></p> Trisna Kumala Satya Dewi Copyright (c) 2026 Manuskripta https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-07-31 2026-07-31 1 1 161 182 Etika Politik Kesultanan Melayu-Bima https://manuskripta.manassa.id/index.php/journal/article/view/238 <p><span data-path-to-node="3,3,1,0,0">The presence of scientific publications on ancient manuscripts can indeed provide important information regarding various events that occurred in the past</span><span data-path-to-node="3,3,1,0,2">. Therefore, the publication of the text edition of <em data-path-to-node="3,3,1,0,2" data-index-in-node="52">Jawharat al-Ma'arif</em> by Haji Nur Hidayatullah al-Manshur Muhammad Syuja'uddin, a descendant of the Bima nobility, edited by Oman Fathurahman—and published together with <em data-path-to-node="3,3,1,0,2" data-index-in-node="220">Bo' Bumi Luma Rasanae</em> (edited by Henri Chambert-Loir and Massir Q. Abdullah) and <em data-path-to-node="3,3,1,0,2" data-index-in-node="301">Ten Letters of Sultan Bima Abdul Hamid Muhammad Syah</em> (edited by Suryadi)—is nothing less than the rediscovery of fragments of social, intellectual, and political history from the historical structure of the Bima Sultanate specifically and the Malay-Nusantara Sultanate in general</span><span data-path-to-node="3,3,1,0,4">.</span></p> Adib Misbachul Islam Copyright (c) 2026 Manuskripta https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-07-31 2026-07-31 1 1 183 185 Kakawin dan Hikayat: Refleksi Sastra Nusantara https://manuskripta.manassa.id/index.php/journal/article/view/239 <p id="p-rc_d7a6151156c0bed5-175" data-path-to-node="4,0"><span data-path-to-node="4,0,0">This review discusses an anthology edited by Abdul Hadi W.M. et al., which compiles research chapters from 13 contributors aimed at revitalizing public awareness of Maritime Southeast Asia’s (Nusantara) rich intellectual and literary heritage</span><span data-path-to-node="4,0,2">. The volume spans classical Old Javanese literature to late 19th-century works</span><span data-path-to-node="4,0,4">. Key discussions include Mpu Kanwa's <em data-path-to-node="4,0,4" data-index-in-node="38">Arjunawiwaha</em>, analyzed by Abdul Hadi W.M., which highlights its unique poetic meters (<em data-path-to-node="4,0,4" data-index-in-node="124">kakawin</em>), aesthetic departures from Sanskrit models, and the synthesis of Tantric philosophy (<em data-path-to-node="4,0,4" data-index-in-node="218">dharma, artha, kama, moksa</em>) with quietude (<em data-path-to-node="4,0,4" data-index-in-node="261">santarasa</em>) as an act of worship (<em data-path-to-node="4,0,4" data-index-in-node="294">yantra</em>)</span><span data-path-to-node="4,0,6">. </span><span data-path-to-node="4,1,0">Furthermore, the review outlines Puji Santosa's examination of Javanese <em data-path-to-node="4,1,0" data-index-in-node="72">didactic macapat</em> texts (<em data-path-to-node="4,1,0" data-index-in-node="96">Wedhatama, Wirawiyata, Tripama</em>) as reflections of elite priyayi values and spiritual perfection, and Suwanti's study on <em data-path-to-node="4,1,0" data-index-in-node="216">Hikayat Panji Semirang</em>, which illuminates traditional Javanese views on romance, social nobility, and marital education</span><span data-path-to-node="4,1,2">. Additional essays explore Minangkabau perspectives on Malay history (Mu'jizah), Acehnese literary traditions (S. Amran Tasai), frame stories like <em data-path-to-node="4,1,2" data-index-in-node="148">Hikayat Maharaja Ali</em> (Sastri Sunarti), the mythologized history of <em data-path-to-node="4,1,2" data-index-in-node="215">Syarif Hidayatullah</em> of Cirebon (Siti Zahra Yundiafi), and Islamic attitudes in <em data-path-to-node="4,1,2" data-index-in-node="294">Panji Wulung</em> (Abdul Rozak Zaidan)</span><span data-path-to-node="4,1,4">.</span></p> Bambang Widiatmoko Copyright (c) 2026 Manuskripta https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-07-31 2026-07-31 1 1 187 190 Hikayat Nakhoda Asik Sapirin bin Usman, Hikayat Merpati Mas Muhammad Bakir https://manuskripta.manassa.id/index.php/journal/article/view/240 <p id="p-rc_d7a6151156c0bed5-180" data-path-to-node="8,0"><span data-path-to-node="8,0,0">This review evaluates Henri Chambert-Loir’s critical edition of two 19th-century Batavian Malay manuscripts (<em data-path-to-node="8,0,0" data-index-in-node="119">Hikayat Nakhoda Asik</em> and <em data-path-to-node="8,0,0" data-index-in-node="144">Hikayat Merpati Mas</em>) sourced from the Fadli family's commercial lending library in Pecenongan</span><span data-path-to-node="8,0,2">. The reviewer emphasizes the editor's deliberate strategy to popularize classical Malay philology for general readers by prioritizing the narrative stories at the front of the book as entertainment, while placing technical philological apparatuses and critical notes at the back</span><span data-path-to-node="8,0,4">. </span><span data-path-to-node="8,1,0">Structurally, both texts adhere to classic Malay literary tropes involving royal wandering, tests of heroism, and eventual marital and political restoration</span><span data-path-to-node="8,1,2">. A major philological contribution highlighted in the review is Chambert-Loir’s critical verification of authorship (<em data-path-to-node="8,1,2" data-index-in-node="118">dabt nisbat al-kitāb li-al-mu'allif</em>): despite colophon attestation crediting Muhammad Bakir, textual and linguistic analysis attributes <em data-path-to-node="8,1,2" data-index-in-node="254">Hikayat Nakhoda Asik</em> to Sapirin bin Usman</span><span data-path-to-node="8,1,4">. </span><span data-path-to-node="8,2,0">Additionally, the review engages with Chambert-Loir's theoretical insights regarding manuscript transcription</span><span data-path-to-node="8,2,2">. It reflects on the inherent limitations of reproducing Malay texts "as close as possible to the original," arguing that transliteration inevitably introduces alterations</span><span data-path-to-node="8,2,4">. The reviewer praises the publication as a highly valuable empirical and methodological benchmark for Nusantara manuscript studies</span><span data-path-to-node="8,2,6">.</span></p> Oman Fathurahman Copyright (c) 2026 Manuskripta https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-07-31 2026-07-31 1 1 191 193