Menafsirkan Ulang Riwayat Ken Angrok dan Ken Děděs dalam Kitab Pararaton
DOI:
https://doi.org/10.33656/manuskripta.v1i1.230Keywords:
Kitab Pararaton, Keng Angrok, Ken Děděs, Singhasari, Majapahit, Hindu Saiwa, Budha MahayanaAbstract
The Pararaton is an anonymous work written in Middle Javanese. The book outlines the life of Ken Angrok as well as the kings of Singhasari and Majapahit. This article attempts to explain the background behind why the story of Ken Angrok receives a larger portion compared to the stories of other kings' lives. Through a textual examination of the Pararaton and an analysis of related archaeological evidence, it is revealed that the story of Ken Angrok in the text symbolizes the unification of two major religions practiced by the Ancient Javanese society: Shaiva Hinduism and Mahayana Buddhism. The symbolization of Shaiva Hinduism is evident in the description of Ken Angrok as the incarnation of three gods: Brahma, Shiva, and Vishnu, while the symbolization of Mahayana Buddhism is seen in the description of Ken Angrok's wife, Ken Děděs, as the only daughter of Mpu Purwa, a Mahayana Buddhist priest. As an implication of this unification of two major religions, several temples carrying the spirit of unification, known as Shiva-Buddha temples, were built during the Singhasari Kingdom era. The design of these temples was clearly unimaginable prior to the Singhasari era.
===
Kitab Pararaton merupakan karya anonim yang ditulis dalam bahasa Jawa tengahan. Kitab tersebut menguraikan kehidupan Ken Angrok serta raja-raja Singhasari dan Majapahit. Tulisan ini berusaha menjelaskan latar belakang mengapa cerita mengenai Ken Angrok itu mendapat porsi yang lebih besar dibandingkan dengan cerita mengenai kehidupan raja-raja yang lain. Melalui telaah tekstual terhadap Kitab Pararaton dan telaah terhadap bukti-bukti arkeologis terkait, terlihat bahwa cerita Ken Angrok dalam kitab tersebut merupakan simbol penyatuan dua agama besar yang dianut oleh masyarakat Jawa Kuno: Hindu Saiwa dan Budha Mahayana. Simbolisasi Agama Hindu-Saiwa itu terlihat dari uraian mengenai sosok Ken Angrok sebagai penjelmaan dari tiga dewa: Brahma, Siwa, dan Wisnu, sementara simbolisasi agama Budha Mahayana itu terlihat dari uraian mengenai sosok isteri Ken Angrok, yaitu Ken Děděs, sebagai putri tunggal Mpu Purwa, seorang pendeta Budha Mahayana. Sebagai implikasi dari penyatuan dua agama besar, beberapa candi yang mengandung semangat penyatuan tersebut, yang dikenal dengan candi Syiwa-Budha, dibangun pada masa Kerajaan Singhasari. Bentuk candi tersebut jelas tidak pernah terbayangkan ada sebelum masa Singhasari.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Manuskripta

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.