Bahasa Orang-Orang Mandala: Relasi Bahasa antara Lontar Sunda dengan Bahasa Orang Baduy
DOI:
https://doi.org/10.33656/manuskripta.v16i1.192Keywords:
Baduy, Baduy Language, Old Sundanese Manuscripts, Pantun Stories, Ancient Sundanese, Bahasa Baduy, Naskah Sunda Kuno, Cerita Pantun, Sunda KunoAbstract
This paper examines the relationship between the language of ancient Sundanese texts and the language of the Baduy people, especially their oral tradition of carita pantun. Although the Baduy people have a distinctive cultural style and way of life, including language, based on field evidence, the interaction between the Baduy people and people outside the Baduy community occurs dynamically. The assumption that the Baduy people isolate themselves, which is often expressed by many researchers, is clearly an unproven accusation. Because of the relationship between the language of ancient Sundanese texts and the language of the Baduy people, the question arises whether the language in the texts referred to as ancient Sundanese is chronologically related to what is called modern Sundanese or whether this language is a language variety used by certain groups.
===
Tulisan ini mengulas mengenai pertautan antara bahasa dalam teks Sunda kuna dengan bahasa orang Baduy terutama tradisi lisan mereka carita pantun. Meski orang Baduy memiliki corak budaya dan pranata hidup yang khas, termasuk bahasa, dari bukti di lapangan interaksi orang Baduy dan orang di luar komunitas Baduy terjadi secara dinamis. Anggapan bahwa orang Baduy mengisolasi diri, yang sering diutarakan banyak peneliti, jelas merupakan tuduhan yang tidak terbukti. Oleh karena pertautan antara bahasa teks Sunda kuna dan bahasa orang Baduy, maka timbul pertanyaan apakah bahasa dalam teks yang disebut Sunda kuna berkaitan secara kronologis dengan yang disebut bahasa Sunda modern ataukah bahasa ini merupakan salah satu ragam bahasa yang digunakan oleh kalangan tertentu.
References
Barkah, Euis Karwati, dkk. 1996. Upacara Kematian Tradisional Jawa Barat. Bandung: Duta Pacifica.
Coolsma, S. 1985. Tata Bahasa Sunda. Penerjemah Husein Widjajakusumah dan Yus Rusyana. Jakarta: Penerbit Djambatan.
Danasasmita, Saleh, dan Anis Djatisunda. 1986. Kehidupan Masyarakat Kanekes. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi) Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Darsa, Ahmada Undang. 2012. Séwaka Darma: Peti Tiga Ciburuy Garut. Bandung: Pusat Studi Sunda.
Darsa, Ahmada Undang, dan Edi S. Ekadjati. 2003. “Fragmen Carita Parahyangan dan Carita Parahyangan.” Sundalana 1: 173–208.
Darsa, Ahmada Undang, Elis Suryani Nani Sumarlina, Rangga Saptya Mohamad Permana, dan Aditya Pratama. 2019. Kawih Katanian: Naskah Lontar Ciburuy Peti 1 Kropak 24. [Bandung]: Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat bekerjasama dengan Lintas Budaya Nusantara.
Gunawan, Aditia. 2023. “Sundanese Religion in the 15th Century: A Philological Study Based on the Śikṣā Guru, the Sasana Mahaguru, and the Siksa Kandaṅ Karǝsian.” Disertasi Doktor, École Pratique des Hautes Études, Paris.
Gunawan, Aditia. 2025. “Children of Patanjala; Revisiting the Problem of Baduy Origins Using Old Sundanese and Old Javanese Sources.” Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia 26(2): 252–270. https://doi.org/10.17510/wacana.v26i2.1801.
Kadarisman, A. Effendi. 2009. Mengurai Bahasa, Menyibak Budaya (Bunga Rampai Linguistik, Puitika, dan Pengajaran Bahasa). Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang.
Meijer, J. J. 1891. “Badoejsche Pantoenverhalen.” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië 40: 45–105.
Nawawi, Riki. 2023. Alih Aksara Kawih Manondari: Naskah Sunda Kuno Koleksi Kabuyutan Ciburuy Garut. Jakarta: Perpusnas Press.
Noorduyn, J., dan A. Teeuw, ed. 2009. Tiga Pesona Sunda Kuna. Penerjemah S. Hawe. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya & Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV).
Rosidi, Ajip. 1970. Sri Sadana atau Sulanjana: Dipantunkan oleh Ki Atjeng Tamadipura (Situraja-Sumedang). Bandung: Projek Penelitian Pantun & Folklore Sunda.
Rosidi, Ajip. 1974. Carita Buyut Orenyeng: Dipantunkan oleh Ki Sajin (Baduy, Lebak). Bandung: Proyek Penelitian Pantun & Folklore Sunda.
Ruhimat, Mamat, Aditia Gunawan, dan Tien Wartini. 2014. Kawih Pangeuyeukan: Tenun dalam Puisi Sunda Kuna dan Teks-teks Lainnya. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI.
Sukarta, I Nyoman, Ida Bagus Mayun, dan I Wayan Rupa. 1993. Peranan Kelompok Mabebasan dalam Menyebarluaskan Nilai-nilai Budaya Masyarakat Bali. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Teeuw, Andrias. 2013. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Bandung: Dunia Pustaka Jaya.
Wartini, Tien, dkk. 2010. Tutur Bwana dan Empat Mantra Sunda Kuna. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI - Yayasan Pusat Studi Sunda.
Wibisana, Wahyu. 2000. “Sastra Sunda Kuno.” Dalam Lima Abad Sastra Sunda: Sebuah Antologi, Jilid 1, ed. Wahyu Wibisana, Iskandarwassid, dan Titi Kartini, 1–99. Bandung: Geger Sunten.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Manuskripta

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.