Lontar Sri Tanjung: Narasi, Simbol, dan Ingatan

Authors

  • Wiwin Indiarti Unversitas PGRI Banyuwangi

DOI:

https://doi.org/10.33656/manuskripta.v15i1.176

Keywords:

Sri Tanjung Manuscript, Collective Memory, Cultural Studies, Symbol, Banyuwangi, Lontar Sri Tanjung, Memori Kolektif, Kajian Budaya, Simbol

Abstract

Lontar Sri Tanjung is a classical Nusantara manuscript that weaves narrative, moral teachings, and symbolism, serving as a vital repository of cultural memory for the Banyuwangi region and Osing community. Its recognition as an Indonesian National Collective Memory (IKON) in 2024 affirms its significance in preserving intangible heritage. The text recounts the legendary origin of Banyuwangi through the symbol of fragrant water, embodying values of loyalty, sacrifice, and the honor restoration. Central to the story is an idealized female figure who reflects traditional moral ideals while anchoring local cultural identity. Viewed through the lens of collective memory studies, Lontar Sri Tanjung is not a static relic but a living cultural space that continually shapes and transmits shared meanings across generations. Contemporary critical readings open possibilities for reinterpretation, including discussions of gender and power. Today, the manuscript remains relevant for character education, cultural literacy, reinforcing local identity, and advancing cultural diplomacy.

===

Lontar Sri Tanjung merupakan naskah sastra klasik Nusantara yang memadukan narasi, nilai moral, dan simbolisme, sekaligus berfungsi sebagai memori budaya masyarakat Banyuwangi dan Osing. Penetapannya sebagai naskah Ingatan Kolektif Nasional (IKON) 2024 menegaskan perannya sebagai naskah penting dalam pelestarian warisan budaya. Kisah Sri Tanjung memuat legenda asal-usul Banyuwangi melalui simbol air harum, serta nilai kesetiaan, pengorbanan, dan pemulihan kehormatan. Narasi ini menghadirkan figur perempuan ideal dalam bingkai moral tradisional, sekaligus merefleksikan identitas kultural masyarakat setempat. Dalam kajian ingatan kolektif, Lontar Sri Tanjung bukan sekadar arsip masa lalu, melainkan ruang hidup yang membentuk dan mereproduksi ingatan lintas generasi. Pembacaan kritis memungkinkan penafsiran ulang dalam konteks kontemporer, termasuk isu gender dan relasi kuasa. Di masa kini, naskah ini relevan untuk pendidikan karakter, literasi budaya, penguatan identitas lokal, dan diplomasi budaya.

References

Assmann, J. 2011. Cultural Memory and Early Civilization: Writing, Remembrance, and Political Imagination. Cambridge: Cambridge University Press.

Arps, Bernard. 1990. “Singing the life of Joseph: An all-night reading of the lontar Yusup in Banyuwangi, East Java”, dalam Indonesia and Malay World, No. 53 November 1990. DOI: 10.1080/03062849008729747.

Beatty, Andrew. 2012. “Kala Defanged: Managing Power in Java Away From The Centre”. Bijdragen tot de Taal-Land-en Volkenkunde, 168 (2-3): 173-194.

Callenfels, P.V. van Stein. 1925. “De Sudamala in de Hindu- Javaansche kunst”. TBG LXVI. The Hague: Martinus Nijhoff.

De Stoppelaar, J.W. 1927. Balambangansch Adatrecht. Wageningen: Veenman.

Djamaluddin, Muhamad, dkk. 2025. “Air dalam Perspektif Agama dan Budaya”, Journal on Education Volume 07, No. 02, Januari-Februari 2025, pp. 8733-8740.

Epp, F. 1849. “Banjoewangi”, dalam Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië (vol. 2, 1849), hlm. 260-261.

Epp, F. 1852. Schilderungen aus Holländisch-Ostindien. Heidelberg: C.F. Winter.

Halbwachs, M. 1992. On Collective Memory. Transl./ed. LA Coser. Chicago: Univ. Chicago Press.

Indiarti, Wiwin. 2015. “Kajian mengenai Desa Kemiren sebagai Penyangga Tradisi dan Kearifan Lokal Masyarakat Osing”. Dalam Anasrullah (Eds.), Jagat Osing: Seni, Tradisi dan Kearifan Lokal Osing (hlm. 139-156). Banyuwangi: Rumah Budaya Osing.

Indiarti, Wiwin, & Anasrullah. 2020. Lontar Sri Tanjung Kidung Kuno Ujung Timur Jawa. Banyuwangi: DISPUSIP Banyuwangi.

Indiarti, Wiwin dkk. 2022. Katalog Naskah Kuno Banyuwangi Edisi 2. Banyuwangi: DISPUSIP Banyuwangi.

Indiarti, Wiwin, & Anasrullah. 2024. Sri Tanjung - transliterasi, terjemahan, dan analisis struktural. Jakarta: Perpusnas Press.

Iswanto, Agus, Wiwin Indiarti, Mashuri, M Agus Noorbani, Mahmudah Nur, Fiqru Mafar, Sastri Sunarti. 2023. “Safeguarding manuscript-reading tradition as living heritage through ritual: mocoan tradition of an Osing family in Banyuwangi, Indonesia”. International Journal of Intangible Heritage, Vol.18 2023.

Kern, W. 1934. Oudjavaansche en Balische Helle-voorstellingen. Leiden: Leiden University.

Mumfangati, Titi. 2009. “Macaan Lontar Yusup Tradisi Lisan sebagai Bentuk Pelestarian Nilai Budaya pada Masyarakat Using, Banyuwangi”. Patrawidya, 10 (2): 252–290.

Pigeaud, Th. 1967. Literaturé of Java: Catalogue Raisonne of Javanese Manuscripts in The Library of The University of Leiden and Other Public Collections in The Netherlands Volume I Synopsis of Javanese Literaturé 900- 1900 AD. The Hague: Martinus Nijhof.

Poerbatjaraka & Th. Pigeaud. 1933. “Alfabetische lijst der Javansche Handschriften…”. Koninklijk Bataviaasch Genootschap yan Kunsten en Wetenschappen Jaarboek, (volume 1, 1933).

Prijono. 1938. “Sri Tanjung: Een Oud Javaansch Verhaal”. Disertasi. The Hague: H. L. Smits.

van der Tuuk, H. N. 1897. Woordenboek: Kawi-Balineesch-Nederlandsch. Batavia: Landrukkerij.

Wirawangsa, R. Rg. 1936. Sritandjoeng. Batavia: Bale Poestaka.

Downloads

Published

2025-12-30

How to Cite

Indiarti, W. (2025). Lontar Sri Tanjung: Narasi, Simbol, dan Ingatan. Manuskripta, 15(1), 31–57. https://doi.org/10.33656/manuskripta.v15i1.176