Kekerasan Seksual dalam Naskah Sabhaparwa Merapi-Merbabu: Analisis Wacana Kritis terhadap Narasi Patriarkal

Authors

  • Galang Adhi Pradipta Universitas Indonesia
  • I Made Suparta Universitas Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.33656/manuskripta.v15i1.131

Keywords:

Sabhaparwa, Merapi-Merbabu Manuscripts, Sexual Violence, Critical Discourse Analysis, Patriarchy, Manuskrip Merapi-Merbabu, Kekerasan Seksual, Analisis Wacana Kritis, Patriarki

Abstract

Sexual violence is a persistent historical issue recorded in the Sabhaparwa manuscript (31 L 92) from the Merapi-Merbabu scriptorium. Using Fairclough’s critical discourse analysis, Foucault’s power relations, and Butler’s gender performativity, this study investigates Draupadi’s violation as a critique of state law (Rajadharma). Micro-analysis reveals a tiered construction of violence exposing the perpetrators' "fragile masculinity." Meso-analysis highlights a functional shift where the scriptorium reinterprets trauma as motivation for ascetic practice. Macro-analysis uncovers Dharmasunya (a legal void), where institutional failure is met with the supremacy of mandala morality. The study concludes that Sabhaparwa serves as a radical counter-discourse, asserting that state legitimacy collapses when it fails to protect women’s dignity. Ultimately, the text positions spiritual integrity as the final bastion of humanity against systemic political and patriarchal failure.

===

Kekerasan seksual merupakan isu persisten yang terekam dalam naskah kuno Sabhaparwa koleksi Merapi-Merbabu (31 L 92). Penelitian kualitatif ini menggunakan analisis wacana kritis Fairclough, teori relasi kuasa Foucault, dan performativitas gender Butler untuk membedah narasi pelecehan Dropadi. Tujuannya adalah menunjukkan bahwa teks tersebut mengkritik kegagalan hukum negara (Rajadharma), bukan menormalisasi patriarki. Secara mikro, analisis mengungkap konstruksi kekerasan yang justru menelanjangi "maskulinitas rapuh" para pelaku. Secara meso, terjadi pergeseran fungsi teks menjadi materi didaktis-asketis, di mana trauma diolah menjadi motivasi spiritual. Pada level makro, teks merepresentasikan kondisi Dharmasunya (kekosongan hukum) yang dijawab dengan supremasi moralitas mandala. Studi ini menyimpulkan bahwa Sabhaparwa adalah wacana tandingan radikal; legitimasi kekuasaan dianggap runtuh saat gagal melindungi martabat perempuan, menjadikan integritas spiritual sebagai benteng terakhir kemanusiaan dalam menghadapi kegagalan sistemik.

Downloads

Published

2025-12-30

How to Cite

Pradipta, G. A., & Suparta, I. M. (2025). Kekerasan Seksual dalam Naskah Sabhaparwa Merapi-Merbabu: Analisis Wacana Kritis terhadap Narasi Patriarkal. Manuskripta, 15(1), 109–151. https://doi.org/10.33656/manuskripta.v15i1.131